Wahyu Selain Kades Juga Miliki Usaha Perebusan Ikan

108 Kali Dilihat

Lampung (Bumi1.com) Wahyu selain menjadi Kepala Desa Margasari juga memiliki usaha tempat pengrebusan ikan di samping rumahnya,  tempat pengrebusan itu bisa mempekerjakan warga sekitar dan warga Desa tetangga seperti Desa Srigading Kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur, Kamis (01/04/2021).

Hal itu terlihat jelas pada saat Bumi1.com berbincang-bincang dengan warga yang bekerja sebagai tukang rebus ikan milik Wahyu yang notabenenya masih menjabat sebagai Kepala Desa Margasari dan ini bisa menjadikan contoh Kades yang lainya. Selain menjadi kepala Desa juga masih bisa membuka usaha yang tidak mengganggu tugas di Desa.

Wahyu selain pemilik usaha pengrebusan ikan juga kepala Desa Margasari saat dijumpai ditempat usahanya kepada Bumi1.com mengatakan perebusan ikan yang kami miliki  ini sudah  beroperasi hampir lima tahun, untuk ikan yang kami dapatkan ini dari sini saja wilayah Desa Margasari, kalau ikan terinya dari Muara Angke dan Muara Baru Jakarta.

Untuk jenis ikan yang direbus kebanyakan seperti ikan teri, cumi dan ikan campur-campur, apalagi kalau dari nelayan serok itu macamnya banyak jenisnya. Yang jelas lumayan banyak dan itu kita rebus semuanya.

Lanjut Wahyu, jadi kalau ada cumi kecil dan teri juga kita rebus, kalau ikanya rucah nantikan dipilah-pilih dan disini yang kita pekerjakan masyarakat sekitar yakni Desa kita sendiri adapun Desa tetangga cuman beberapa orang saja.”Kata pemilik usaha rebusan ikan dalam keteranganya kepada Bumi1.com pada Kamis (31/03).

Dalam perharinya pengrebusan ikan itu tergantung dengan pelanggan kita, artinya pendapatan dari hasil tangkapan ikannya. Terkadang cuma 5 kwintal dan terkadang juga sampai satu Ton, apa lagi kalau kita ngambilnya dari Muara Angkek itukan harus satu mobil.

“Karna biaya ongkos permobilnya 1 juta persatu mobil L300 itu. Itupun mobil yang pulangan kearah Lampung sini yang berangkat bawa buah dari pada pulang dari Jakarta kosong lebih baik muatan ikan.”Paparnya.

Dijelaskanya Wahyu, kalau untuk proses pengrebusan itu sebenarnya tidak susah, pada saat ikan datang langsung dicuci setelah itu dimasukkan kedalam perebusan yang sudah ada air dikasih garam. Setelah itu direbus untuk proses pengeringan seperti ikan teri itu tergantung cuacanya terang atau gak, kalau panasnya bagus cuma sehari kering tetapi buat ikan kasaran dua hari baru kering.

Ikan yang sudah kering ini nantinya ada bakul yang datang langsung kegudang kita, tidak kirim kemana-mana hanya lokalan saja. Jadi kita hanya jual di rumahan saja tetapi ada juga dari Metro bahkan Pringsewu untuk pembelinya.

Untuk harga ikan teri kering kemarenya sampai 62 ribu perkilonya tetapi sekarang harganya cuma 45 sampai dengan 48 ribu itu ikan teri rebus yang bagus. Kalau cumi kering  90 ribu perkilonya cuman sekarang perkilonya 70 sampai 75 ribu itu cumi cendol yang kita rebus.

“Kalau untuk pekerjaan ibu-ibu hanya khusus memisahkan dan memilah milih ikan yang sudah direbus saja, kita bayar harian 70.000 ribu kasih makan dua kali dan Sneck ples teh juga. “Jelasnya.

Eni berusia (33) tahun ibu rumah tangga memiliki dua orang anak bekerja ditempat pengrebusan ikan milik Wahyu saat berbincang-bincang mengatakan saya kerjanya misahin jenis-jenis ikan, jenis ikan kembung, teri dan cumi yang sudah direbus kayak gini. Saya kerja disini sudah cukup lama kurang lebih dua bulan, pembayaranya itu harian perharinya sebesar Rp.70.000 ribu makan senek sama teh dikasih.

Untuk prosesnya kalau sebelum direbus itu dicuci setelah bersih lalu direbus, dikeringkan baru kita pilah pilih setelah kering. Kalau pengeringan itu tergantung dengan cuaca kalau panasnya bagus satu hari aja sudah kering dan kalau gak bagus panasnya bisa dua hari keringnya.”Kata Eni yang bekerja ditempat pengrebusan ikan asin.

Lanjutnya, alhamdulillah dengan adanya pekerjaan diperebusan ini, kami sangat terbantu dan berterima kasih sekali bisa membantu perekonomian buat kami serta keluarga juga bisa bantu-bantu penghasilan suami. “Pungkasnya. (Roni)