Adanya Dugaan Pungli Pada Nelayan, Ketua HNSI Angkat Bicara

1014 Kali Dilihat

Lampung (Bumi1.com) Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung Timur angkat bicara paska adanya keluhan para nelayan obor yang resah adanya dugaan pungli untuk para nelayan di laut MGM tepatnya Desa Muarga Gadingmas Kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur, hal itu dikatakan ketua HNSI Lamtim saat ditemui di kantornya, pada Sabtu (13/02/2021) siang.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HNSI Lampung Timur Ahmad Alfian, SH. Saat dikonfirmasi dikantornya terkait keluhan nelayan kepada Bumi1.com mengatakan yang pastinya begini berdasarkan kita tidak ada masalah jika untuk kedatangan para nelayan pendatang.

Tetapi perlu kita ketahui, keluhan mereka sesama nelayan pendatang yang melaut disini, seperti nelayan lokal itu mengeluhkan kedatangan kapal-kapal nelayan obor dari luar dan hasil tangkapan nelayan disini sangat menurun, karna mereka peralatannya menggunakan alat yang sangat sederhana. “Tidak bisa bersainglah dengan nelayan-nelayan obor dan untuk perizinan mereka inikan masih tradisional gak begitu canggih seperti mereka nelayan obor.

Lanjutnya, terkait adanya dugaan pungli di perairan laut Muara Gadingmas yang telah beredar disalah satu media elektronik itu, kalau kami sendiri dari pihak HNSI tidak mengetahui secara pasti apakah itu ada atau tidak yang berkaitan dengan adanya pemberitaan itu.”Ucapnya.

Tetapi pihak HNSI Lampung Timur memberikan apresiasi terhadap media tersebut, untuk melakukan fungsi kontrol terhadap situasi masyarakat nelayan dan harus menanyakan apakah kapal nelayan obor itu saat melaut diperairan Provinsi Lampung telah memenuhi syarat yang dijelaskan oleh Permen KP nomer 25 tahun 2020.”Kata Alfian dalam keteranganya kepada Bumi1.com.

Dijelaskannya Alfian,  untuk jumlah nelayan pendatang disetiap tahunnya kurang lebih hampir 200 nelayan pendatang. Untuk persyaratannya nelayan pendatang harus memiliki Sipi Andon yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah itu sendiri. Jadi selama inikan nelayan-nelayan obor ini belum pernah berkoordinasi dengan kami selaku Ketua HNSI Lampung Timur dan seperti apa keberadaannya itu tidak ada dan belum pernah melaporkan keberadaannya untuk memasuki wilayah perairan laut di Provinsi Lampung.

Selain itu kami pihak HNSI Lampung Timur berharap ada koordinasi terhadap tata cara Pemerintah Daerah seperti Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung dan pihak keamanan untuk melakukan penertipan terhadap kapal – kapal nelayan pendatang, itu salah satu harapan kami.”Pintanya.

Menurutnya, kenapa harus ditertipkan, agar kedepannya tidak terjadi kesenjangan sosial terhadap masyarakat nelayan lokal. Karena keluhan nelayan lokal disini itu dipersempit hasil tangkapan mereka dan semakin menurun dengan kedatangan kapal -kapal nelayan obor dari luar Lampung ini.

“Kami berharap kepada semua pihak Instansi terkait baik itu dari Dinas Perikanan Provinsi Lampung maupun pihak aparat penegak hukum harus ada penertiban terhadap kapal – kapal tersebut gunanya untuk melengkapi seluruh perizinanya  yang memang diperlukan menurut peraturan, supaya tidak terjadi kesenjangan terhadap masyarakat nelayan disini. “Harapnya.

Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI ) Lampung Timur akan tetap membina nelayan-nelayan lokal di wilayah Kabupaten Lampung Timur dan kalau ada nelayan pendatang tetap kami terima dengan syarat harus mengikuti aturan seperti perlengkapan perizinan itu harus dimiliki dan dilengkapi. “Tutupnya.

Sementara M.Arifin nelayan lokal Muara Gadingmas saat di wawancarai keluh kesahnya saat adanya kedatangan nelayan obor mengatakan ini sangat mengganggu sekali buat penghasilan kami selaku nelayan lokal, seperti sekarang ini kapal – kapal nelayan obor itu berangkar terus dan lampu-lampunya itu selalu hidup semua. Jadi tukang bagan adanya nelayan obor menggunakan lampu yang banyak itu sangat mengganggu sekali.

Dengan adanya nelayan obor yang menghidupkan lampunya semalaman ikan – ikan jadi berpencar, sehingga pendapatan nelayan lokal disini jelas – jelas mengurang penghasilanya. Harapan kami selaku nelayan lokal kalau bisa ya dikurangi  untuk nelayan pendatang itu sendiri.”Harapnya.

Lanjut Arifin, “Karna disinikan sudah banyak nelayan tradisional seperti nelaya jaring dan alat kami itu beda dengan alat – alat para nelayan obor, kalau alat – alat nelayan pendatang itu sudah canggih. Jadi lokasi buat kami untuk mecari ikan di perairan laut Labuhan Maringgai ini sudah terlalu sempit sedangkan kita hanya menggunakan alat – alat tradisional yang sederhana, intinya kami sebagai nelayan-nelayan kecil disni sangat terganggu karna kami hanya mencari makan cuma diseputaran sini-sini aja.”Pungkasnya. (Roni)