Sampah Laut Seperti Ubur-Ubur Jadi Pendapatan Nelayan

104 Kali Dilihat

Lampung (Bumi1.com) Sampah laut seperti ubur-ubur kali ini bisa dijual dengan harga satu basket mencapai 11000 sampai 13000 yang diterima oleh pengepul dari para nelayan di Labuhan Maringgai tepanya di Desa Muara Gadingmas Lampung Timur, Sabtu (13/02/2021).

Pantauan Bumi1.com dilapangan terlihat para nelayan di MGM nampak senang adanya ubur-ubur bisa dijual yang tadinya hanyalah sampah laut tidak bisa digunakan kali ini bisa dijual dan ada yang menampunya.

Subiantoro salah satu pengepul ubur-ubur saat dikonfirmasi kepada Bumi1.com mengatakan tempat ini untuk mengepul ubur-ubur dari tangkapan para nelayan, sebenarnya ubur-ubur ini dikatagorikan sebagai sampah laut dan sangat mengganggu para nelayan-nelayan kecil.

Dan ubur ubur ini diambil dari laut oleh nelayan pribumi atau lokal saja dan kami menampung hasil ubur – ubur yang diperoleh para nelayan, hingga mencapai 500 sampai 700 basket dalam perharinya. Menurut informasi nantinya ubur-ubur ini akan diolah sejenis makanan. “Jadi kami disini ini hanya sebagai pengepul saja kalau proses kelanjutannya kami tidak tau. “Ucapnya.

Lanjut Subiantoro, setelah itu akan kami kirim ke Jakarta, namun sebelum dikirim kita tampung dulu di penampungan yang sudah kita buat petakan bambu dan plastik setelah itu ubur – ubru kita beri garam dan tawas.

“Kami terima dari nelayan perbasket, kalau untuk kepala ubur – ubur seharga 13000 dan kalau kakinya 11000. Untuk nelayan yang jual ubur-ubur kami itu relatif, ada yang 20 sampai 30 bahkan 50 basket setiap satu perahunya. Untuk sistem pembayaran kenelayan langsung tunai atau kes pembayarannya kalau pada nelayan.”Paparnya.

Menurutnya, untuk ubur-ubur ini musiman setahun sekali dan selangnya hanya 3 bulan saja dari bulan Januari sampai bulan Maret, kalau untuk pengirimanya kita belum mengirim karna ini baru tahap awal. Disini yang pengepunya ada dua CV yang pertama CV Mahera dan yang satunya kurang paham CV apa, intinya masing-masing pengepulnya.

Harapan kami setelah ada pemberitaan ini kami berharap kepada Pemerintah khususnya Dinas Perikanan agar bisa memberikan bantuan buat kami selaku pengepul sampah laut seperti ubur-ubur sekarang ini, contohnya seperti tempat untuk penampungan pengelolaan sampah laut. “Pintanya.

Sementara Toto nelayan pencari ubur-ubur yang disebut sampah laut saat ditemui Bumi1.com menjelaskan kami merasa sangat terbantu sekali sebagai masyarakat nelayan Desa Muara Gadingmas karena ubur-ubur laku dijual, harga yang diterima pengepul ini sangat sesuailah perbasket 13000 itu kepala ubur -ubur dan yang 11000 itu kaki ubur- ubur.

Lanjutnya, setiap hari yang kami peroleh itu kadang 60 sampai 70 basket itu dalam dua kali berangkat ke laut untuk mencari ubur -ubur, dikarnakan kami memakai perahu kecil, untuk lokasi pencarian ubur – ubur itu tidak jauh dari daratan. “Cukup ditempuh dengan jarak 30 menit saja, cuma disekitaran sini saja dan alat yang kita gunakan cuma sederhana sejenis bahan dari bambu dirakit seperti caduk.”Jelasnya.

Ditempat yang sama Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung Timur Ahmad Alfian,SH mengatakan alhamdulilah kita sangat gembira dengan adanya penampung sampah laut seperti ubur-ubur ini, karna kegiatan masyarakat disini khususnya nelayan bisa bertambah, kalau tadinnya nelayan hanya menangkap rajungan dan sekarang lagi sepi. Setelah adanya penampung ubur-ubur ini bisa menambah biaya kebutuhan hidupnya.

“Jadi kalau untuk ubur-ubur ini tidak setiap tahun musimnya, kadang-kadang musimnya lebih dari setahun. Untuk binatang laut yang satu ini sangat mengganggu para nelayan saat menangkap ikan di lautan karena isinya genjor.

Menurutnya, ubur-ubur sebanyak ini munculnya pas musim saja, dan itu tidak pasti munculnya kapan. Belum tentu pas muncul ubur-ubur banyak ada yang penampungnya. Karna penampungnya ini tertentu bahkan dipasaran bisa tidak dipasarkan secara umum jadi hanya tertentu saja.”Kata Alfian.

Lanjut Alfian, kami selaku Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) untuk wilayah Lampung Timur berharap kepada Pemerintah agar memperhatikan masyarakat nelayan kami ini yang membutuhkan alat tangkap untuk ubur-ubur sekarang ini.”Pintanya.(Roni)