Kejari Lamsel Sosialisasi Sadar Hukum Pada Kedes

101 Kali Dilihat

Lampung (Bumi1.Com) Kepala Kejaksaan Negeri Lampung Selatan (Lamsel), Hutamrin SH.MH, Mengingatkan harus adanya memory serah terima jika ada peralihan kepemimpinan dari (Pejabat) Kepala Desa lama ke Kepala Desa baru.

Menurut Hutamrin, Hal ini bertujuan untuk menghindari saling klaim dan lempar tanggung jawab terhadap penggunaan Dana Desa (DD), Dalam konteks peralihan kepemimpinan di tingkat Desa.” Paparnya.

“Apa lagi bagi yang baru, Secara administrasi pertanggungjawaban pelaksanaan Dana Pemerintah, Dalam hal ini adalah Dana Desa per 1 Januari – 31 Desember. Apa bila ada peralihan (Kepemimpinan) harus ada memory serah terima, Yang menuangkan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa akhir masa jabatan pejabat lama. Sedangkan pejabat baru bertanggung jawab sejak dia menjalankan tugas,” Terang Hutamrin.

Dalam acara pelaksanaan tesebut, Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Hukum Aparat Pemerintah Desa yang bekerja sama dengan pihak Kejari, Polres dan Inspektorat Lamsel, Diadakan lokasi Aula Sebuku Rumah Dinas Bupati, Lamsel. Rabu (30/10/2019).

Lebih lanjut lagi, Hutamrin mengatakan, Dalam persepsi kejaksaan selaku Aparat Penegak Hukum (APH) memberikan sosialisasi ke Aparatur Desa terkait aturan hukum sebagai rambu-rambu, Mana yang boleh dilakukan, Mana yang tidak boleh dilakukan, Dan bagaimana pertanggungjawabannya.
“Istilah di Kejaksaan adalah KPH, Yakni Kenali hukum, Pelajari hukum dan Hindari hukum. Merupakan usaha pendeteksian secara awal potensi pelanggaran hukum, Sebagai upaya pencegahan.” Imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Kapolres Lamsel AKBP. M. Syarhan yang diwakili Kasat Reskrim AKP. Tri Maradona, menambahkan, Dasar hukum ketentuan mengenai tindakan Hukum ASN diatur dalam Pasal 385. Bab XX Undang – Undang Nomor 23, Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.

“Dalam UU, Itu diatur cara penanganan hukum terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN), Yakni ada sinergi antar aparat terkait kewenangan penanganan yang bersifat administratif dan pidana.“Masyarakat dapat menyampaikan pengaduan atas dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh aparatur sipil negara di instansi daerah kepada aparat pengawas internal pemerintah (APIP) dan atau penegak hukum (APH).” Ungkapnya Tri Maradona.

Lanjut Kasat Reskrim Polres Lamsel, AKP. Tri Maradona, Juga Menegaskan, Untuk Aparat Penegak Hukum akan melakukan pemeriksaan atas pengaduan yang disampaikan oleh masyarakat setelah terlebih dahulu berkoordinasi dengan Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP).

“Jika berdasarkan pemeriksaan ditemukan dengan bukti adanya penyimpangan yang bersifat Administratif, Proses selanjutnya akan diserahkan kepada aparat pengawas internal pemerintah (Inspektorat). Namun, Jika hasil pemeriksaan ditemukan bukti adanya penyimpangan yang bersifat Pidana, Proses lebih lanjutnya diserahkan kepada Aparat Penegak Hukum sesuai ketentuan Peraturan Undang-undang yang berlaku.” Tegas Tri Maradona.

Sementara dalam kesempatan tersebut, Kepala Inspektur Daerah Lamsel, Joko Sapta menjelaskan, Selaku Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP), Inspektorat menjalankan tugas pelaksanaan pengawasan internal terhadap kinerja dan keuangan melalui Audit, Reviuw, Evaluasi, Pemantauan, Dan Kegiatan pengawasan lainnya yang menjadi kewenangan daerah.

“Seperti halnya, Jika ada temuan yang bersifat administratif, Maka APIP akan mengupayakan pengembalian temuan itu paling lama selama 60 hari ke kas Negara. Namun jika dalam kurun waktu tersebut tidak dilaksanakan, Maka penanganan lebih lanjut akan direkomendasikan ke Aparat Penegak Hukum (APH) dan akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.” Pungkas Joko. (Jhony/Rls)