Bupati Lamtim Chusnunia Hadir Di (UBL)

102 Kali Dilihat

Lampung (bumi1.com)  Politik itu penting, dan politik itu seperti terminal di mana kebijakan semua ruang dapat terkanal dan terdistribusi,” ucap Chusnunia di depan lima ratusan civitas akademika yang hadir di Aula Universitas Bandar Lampung di Bandar Lampung, Selasa (26/09/2017)

Pada acara yang dikemas dalam Kuliah Umum dan Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Universitas Bandar Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dalam pengembangan sumberdaya manusia serta penelitian dan pengembangan tersebut Chusnunia hadir sebagai pemateri tunggal.

Dalam paparan materi dengan judul “Perempuan dan Politik di Indonesia”, Chusnunia mengingatkan perlunya agar semua pihak dapat beraktifitas dalam dunia politik khususnya kaum perempuan.

“Politik kata kuncinya adalah bagaimana kita berkomunikasi dan berjejaring, tidak melulu keras dan sikut sikutan. Jadi tidak ada bedanya bidang politik dengan bidang manapun.”

“Perempuan di bidang politik masih sangat minim karena sebenarnya berkaitan dengan ketakutannya sendiri yang memandang politik itu sebagai suatu yang mengerikan,” tutur Bupati Lampung Timur itu.

Dipaparkan oleh Chusnunia dalam kuliah umum yang dimoderatori oleh Dr. Ir. Heriyanto, M.T., tersebut bahwa keaktifan kaum perempuan di bidang politik atau bidang manapun tetap harus didasarkan pada kemampuan.

“Bagaimana perempuan perempuan Indonesia yang ingin aktif di politik tetapi tidak melulu mengandalkan affirmative action (kebijakan yang diambil agar kelompok tertentu dapat memperolah peluang yang sama dengan kelompok yang lain dalam bidang yang sama).”

“Kenapa, sebenarnya perempuan mau aktif dimana pun itu sama rumusannya mau aktif di politik atau bidang lainnya yaitu harus punya kemampuan, demikian juga kaum laki laki, tambah bupati perempuan pertama se Sumatera tersebut.

Lebih lanjut Chusnunia menjelaskan bahwa tidak perlu ada yang ditakutkan bila ingin terjun dalam dunia politik.

“Apa yang harus ditakutkan terjun dalam dunia politik, selama kita tahu mana yang baik kita lakukan, kita tahu mana yang pantas kita lakukan, dan tidak pantas kita lakukan. Kita tahu pula mana yang bisa kita lakukan dan tidak bisa kita lakukan, kuncinya adalah kitalah yang mengukur.”

“Kalau kita merasa kita mampu dan kita pantas melakukannya, apalagi yang harus kita takutkan.”

“Tidak hanya di bidang politik, dibidang manapun kata kuncinya juga adalah kita harus tahu apakah kita pantas dan bisa melakukannya atau tidak.”

“Tetapi perlu saya sampaikan bahwa tidak ada alasan apapun, asal itu baik tidak pantas dilakukan,” tambah perempuan yang akrab disapa dengan Mbak Nunik tersebut.(Erwan/red)